Jejakcantik.com- Rindu sangat rindu hati ini untuk terbang ke masa datang; namun hari ini saja belum bisa di gapai. Apalagi masa datang, entah apa yang kan terjadi jika covid-19 belum juga menghilang dari muka bumi ini. Untung saja, ingatan tidak pernah hilang; apalagi Jejak Cantik memiliki seribu kisah perjalanan. Quotes of the day, “Jangan biarkan hal buruk tersimpan dalam hati, hanya simpan kenangan yang baik. Itu bisa memberikan energi positif pada kehidupan.” – Citra Pandiangan.

 

Dua pekan sebelumnya, Jejak Cantik sempat menceritakan ketika naik bus kota ke stasiun gambir. Dimana, aku sampai lupa cara turun dari bus kota dan pak kernek sempat buat grogi saja. Nah, kisah kali ini masih lanjutan dari kisah sebelumnya.

 

Ngopi-Ngopi, Makan Fast Food

Akhirnya ini mata lelah juga, usahakan mata tetap gemilang. Cari kenikmatan dan sensasi luar biasa dari kopi rasa hastel di supermarket terdekat. Ah, nikmatnya saat aku menuangkan air panas ke dalam gelas kopi yang sudah ditambahkan syrup hasel. Cari tempat duduk, yup dapat!! Duduk di tengah, karena tuh bangku yang satu-satunya kosong. Kanan-Kiri telah terisi, ya sudah lah dari pada kagak dapat. Bodoh amat dah, amat aja kagak peduli.

 

Trouble, ini tas ransel kegedean banget, waktu mau duduk, eh bangkunya jadi turun sendiri. Bangkunya kira, badan aku segede gentong kali ya. Ya tak apa lah! Benarkan posisi, lalu duduk deh. Hirup aroma kopi, ah segar, enak bingo begitu kata-kata sinetron yang suka memberikan masukan tambahan bahasa alay pada kita semua.

 

Duduk termenung nikmati secangkir kopi, eh tiba-tiba saudara-saudara, Pria muda yang duduk di sebelah kananku memutar music eh lagu patah hati dan menyanyi dengan riang gembira tanpa menggunakan earphone, mungkin terposana melihat wajah kantukku yang tiba-tiba segar bugar setelah menyeruput habiz tuh kopi. Untung saja, gelasnya juga kagak di sedot tuntas karena hausnya.

 

Duh pria disebelahku semakin menjadi-jadi nyanyinya. Untung-untung suara seperti pasya ungu atau ari laso kagak papa enak didengar, neh suara kemana-mana larinya. Ya sudahlah aku putuskan untuk melanjutkan niat tujuan awal datang ke stasiun Gambir. Niat datang awal ke stasiun Gambir sebenarnya ada misi, ingin mengambil foto menara jam di stasiun Gambir. Nyatanya sudah berubah, menara jam berganti menjadi televisi empat arah yang menunjukan lokasi dan keberangkatan kereta api dari Statiun Gambir. Nelen ludah, sedikit kecewa. Lirik ponsel, masih jam 06.20 WIB. Print tiket dulu, sekarang sistemnya sudah enak dan praktis. Tinggal masukan kode booking. Langsung deh tiket ter print kagak perlu ngantri tuk dapatkan tiket.

 

Tiket sudah ditangan, celingak-celinguk lihat bangku kosong, tetapi orang-orangnya agak serem. Alhasil di dekat menara jam eh menara TV aja deh gantinya menara jam, duduk seorang biarawati dan seorang pria. Kebetulan bangku posisi kanannya kosong. Jadilah, diriku duduk di situ dengan manis dan mendengarkan bisikan-bisikan; ups maksudnya cerita-cerita biarawati dan pria berkumis tersebut.

 

 “Kalau naik kereta, itu tidak perlu digembok tasnya,” ujar pria berkumis.

“Kenapa,” Tanya ibu biarawati itu.

“Karena kan tasnya kita langsung bawa. Tidak dititipkan di bagasi pesawat.” Tiba-tiba pria itu kembali bersuara, “Kalau di pesawat semuanya wajib digembok. Biar tidak ada orang yang berbuat jahat memasukkan shabu-shabu atau benda terlarang di dalam tas kita.”

 

Dubrak, aku hampir terjatuh tersungkur (baca bohong). Aku hanya terpana mendengar perkataan bapak tersebut. Jelas-jelas kalau hal itu mungkin tidak pernah terjadi, tetapi kalau barang hilang di dalam bagasi, karena tas or koper kita tidak dikunci. Hal itu jelas terjadi. Ah pikiranku kembali ke bulan Agustus lalu (2014). Waktu itu aku liburan ke Bali hendak kembali ke Jakarta, karena lelahnya mengelilingi Ubud dengan berjalan kaki. Badan pegel semua, jadinya tas ransel yang biasanya aku bawa ke dalam pesawat aku titipkan saja ke bagasi pesawat. Aku lupa mengambil jam pemberian kakak dari Maldives.

 

 

Alhasil tebakan aku benar 100 persen!!!! Jam itu hilang, untungnya cuma jam itu saja yang hilang. Tetap saja aku kecewa, karena sejak jam itu hilang, aku belum punya jam tangan lagi. Sungguh terlalu. Boring menunggu di luar, aku tanyakan ke petugas boleh masuk kagak? “KAGAK BOLEH,” katanya dengan tegas, “Satu jam sebelum keberangkatan baru diizinkan masuk!” Ih tega, berarti masih 120 menit lagi. Aku juga sudah bosan duduk, lapar juga sih ini perut. Liat kanan-kiri, yang ada di dekat pintu pemeriksaan stasiun cuma yang tersedi fast food. Ah fast food pun jadilah, pikir aku.

 

Ngantri dengan menenteng tas ransel dan suitcase yang entah kenapa tuh roda kagak mau kompromi, maunya diseret dari belakang. Kagak mau jalan disamping gadis yang cantik jelita ini, kampret juga nih koper. Ih, ternyata pikiranku tuk sarapan di fast food juga ketebak sama beberapa orang. Pasalnya dari tadi, tuh fast food sepi kagak ada yang makan. Giliran aku mau makan aja, yang ikutan ngantri banyak. Untungnya kasirnya dibuka dua, jadi pelayanannya cepat.

 

Makan di temanin lalat itu palinggggggggggggggggg menyebalkan sedunia. Tapi apa daya, semua bangku penuh dan lalat pun turut bersorak bergembira berputar-putar di mejaku. Sudah di hus-hus (baca usir) tetap saja balik lagi di dekat meja. Hasilnya, makan sambil dongkol sama dengan perut kagak terasa kenyang. Ups, ups, ups, kagak boleh menyalahkan tuh lalat. Padahal gejala stress; karena gugup, ini kali pertama naik kereta api keluar kota seorang diri. Sudah gitu buta peta Bandung. Sekali lagi, ini juga kali pertamanya menginjakkan kaki seorang diri naik kereta api pula.

 

 Finally, makanan habis, jam juga sudah menunjukkan aku boleh beranjak naik ke atas eh ke ruang selanjutnya untuk menunggu kedatangan kereta api dari Bandung yang akan membawa aku ke kota kembang itu. Sungguh mengharukan, rasa nak nangis aja ini mata hahaha. Sebab di paksakan untuk terbuka lebar. Sesekali kepalaku terjatuh tanpa sadar, karena kantuk yang luar biasa. Sehingga suara pria yang berkumandang kereta api tujuan Jakarta-Bandung berada di line 1, tetapi untuk keberangkatan jam 07.20 yang mengalami keterlambatan proses. Eh, ternyata bukan kereta aku. Ya, sabar menanti. Akhirnya kereta pun datang juga. Duduk di gerbong eksekutif memang menyenangkan. Apalagi ini kali pertama aku berpergian seorang diri dengan kereta api antar kota. Seru pastinya, begitulah apa yang aku pikirkan.

 

The Bottom of Line

Warning!!!

INGATLAH SELALU, Sebelum berpergian usahakan tidur cukup. Bagaimanapun juga!! INI PENTING tuk KEBERUNTUNGAN ANDA. Ini adalah kata bijak yang bisa Jejak Cantik berikan kepada teman sekalian yang baru pertama kali mencoba traveling seorang diri. Berdasarkan pengalaman, kurang tidur karena tidak bisa tidur dikarenakan begitu exiting untuk berpetualang. Malah bisa menghancurkan semua perencanaan kita dengan sempurna.

 

 




Fill your day with love and step beauty feet



Fun Time it's you......

Artikel Terkait:

Silakan pilih sistem komentar anda

Jadilah orang pertama yang berkomentar!

You've decided to leave a comment – that's great! Please keep in mind that comments are moderated and please do not use a spammy keyword. Thanks for stopping by! and God bless us! Keep Smile and Lovely Day